Selama ini pers Barat selalu memberitakan hal yang negatif, dan dengan kerja sama ini diharapkan kami bisa membuka `wajah` Iran secara objektif,"
Jakarta (ANTARA News) - Direktur Utama Perum LKBN Antara Saiful Hadi menilai kerja sama Kantor Berita ANTARA-Mehr sangat penting agar masyarakat di Indonesia lebih mengenal kehidupan di Iran.

"Selama ini pers Barat selalu memberitakan hal yang negatif, dan dengan kerja sama ini diharapkan kami bisa membuka `wajah` Iran secara objektif," kata Saiful Hadi saat menerima kunjungan delegasi Iran di kantor Antara di Jakarta, Jumat.

Saiful juga menekankan bahwa dirinya berharap Mehr dan kantor berita di Iran yang lain dapat memberitakan Indonesia secara objektif. Dia menjelaskan antara Indonesia-Iran memiliki banyak kesamaan sehingga patut diberitakan secara objektif.

"Indonesia baru 15 tahun bebas dari era otoriter Soeharto, dan kami terus berkembang," ujarnya.

Saiful menjelaskan Antara merupakan satu-satunya kantor berita di Indonesia dan menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tahun 2007. Dia mengatakan Antara juga harus mencari untung meskipun mendapatkan subsidi bagi operasional dari negara sebesar 50 persen.

"Walaupun mendapat subsidi 50 persen, kami juga harus mendapat untung, yaitu dengan mengembangkan bisnis," tegasnya.

Direktur Utama Kantor Berita Mehr, Reza Moghadasi mengatakan banyak potensi antara kedua negara yang bisa ditingkatkan seperti ekonomi, politik, budaya. Dia menilai tugas media untuk menyampaikan potensi tersebut yang dimiliki kedua negara.

"Pekan lalu saya bertemu dengan dubes Indonesia dan kami membicaralan penyelenggaraan kebudaayaan Indonesia di Iran. Dan dari hasil tersebut perlu kerja sama antara media, karena hubungan itu tidak akan lengkap," katanya.

Reza menegaskan kedua negara dalam pemberitaan diharapkan memberikan poin menarik tentang Indonesia-Iran dalam pemberitaan sehingga menarik minat kedua negara.

Dalam delegasi Iran hadir juga Kepala Badan Dakwah Islamiyah Iran Seyed Mahdi Khamoushi dan Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh.
(*)

Pewarta: Imam Budilaksono
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2013