NTT (ANTARA News) - Ibadah puasa Ramadhan yang tengah dijalani umat Muslim, tidak sekedar sebagai usaha untuk menahan lapar dan haus, tetapi lebih dari itu merupakan sebuah anugerah besar dari Allah SWT untuk menempa diri menuju karakter Muslim sejati.

Puasa di bulan Ramadhan menurut Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU, HM Cholil Nafis Lc.PhD, merupakan ibadah yang sangat Istimewa karena puasa adalah ibadah hamba Allah SWT yang sepesial untuk Sang Pencipta.

Puasa katanya bahkan pula menjadi spesial kepada Allah karena keintiman seorang hamba dengan Sang Penyayang. Dan hanya ibadah puasa satu-satunya ibadah yang meninggalkan yang halal dan nikmat demi mendekatkan diri kepada Allah SWT.

"Balasan ibadah puasa spesial dari Allah bisa berlipat-ganda lebih dari sepuluh kali lipat dan di dalamnya terdapat bonus Laitul Qadar yang pahalanya melebihi seribu bulan," katanya.

Menurut HM Cholil Nafis, sejak Nabi Adam a.s. turun ke bumi telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk melakukan ibadah puasa. Dalam sebuah riwayat, Nabi Adam as. melakukan ibadah puasa putih, yaitu tanggap 13, 14 dan 15.

Disebut puasa putih karena pada tanggal itu tampak malam yang putih terang dengan sinar bulan. Saat itu Nabi Daud a.s. melakukan ibadah puasa setengah tahun dengan cara puasa sehari dan berbuka sehari dalam setahun. Nabi Musa a.s. melakukan puasa selam 40 hari termasuk puasa `Asyura` (tanggal 10 Muharram).

Termasuk kata HM Cholil Nafis, Siti Maryam saat mengandung Nabi Isa a.s. melakukan puasa dengan cara tidak bicara kepada siapapun kecuali dengan cara isyarah selama tiga hari.

Demikian juga Nabi Muhammad saw. melakukan puasa `Asyura dan Tasyu`a (tanggal 9 Muharram) sebelum Allah SWT mewajibkan puasa Ramadhan sebulan penuh.

Hal ini menunjukkan bahwa ibadah puasa adalah ibadah seluruh umat manusia sedangkan ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah penyempurna dari ibadah puasa umat terdahulu, seperti ditegaskan oleh Allah SWT dalam firmannya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa". (Al-Baqarah: 183).

Ayat tesebut menjelaskan bahwa tujuan puasa adalah untuk meraih takwa. Karena adakalanya orang berpuasa bukan karena Allah SWT tetapi untuk tujuan duniawi, seperti kesaktian, diet untuk kesehatan, perdukunan dan tujuan lainnya. Takwa dapat diraih melalui sikap dalam menjalani puasa, karena puasa tidak cukup hanya dengan menahan makan, minum dan seks tetapi juga sikap dan prilaku yang baik.

Rasulullah saw bersabada: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan keji dan perbuatannya, maka Allah tidak mempunyai keperluan apapun kepada hamba-Nya untuk meninggalkan makan dan minumnya". HR. Bukhari.

Bahkan sikap berpuasa harus ditunjukkan saat seseorang mendapat ancaman dan makian dari orang lain maka hendaknya bisa menahan diri dan tetap berkata "saya sedang menjalankan ibadah puasa".

Dengan demikian, Puasa adalah kebutuhan umat manusia untuk senantiasa dirinya tetap menjadi manusia secara fisik dan rohani sekaligus untuk menjalin keintiman sang hamba dengan Sang Maha Pencipta, sehingga manusia meraih takwa dalam beriman dan ber Islam. Mudah-mudahan umat Islam dapat menjalankan ibadah puasa dengan sempurna dan meraih takwa.

Hal serupa juga dikemukakan oleh Toni Ervianto, alumnus pasca sarjana Kajian Strategik Intelijen, Universitas Indonesia dalam pandangan terhadap Ramadan dan Persoalan Krusial Bangsa melalui Tribunners, Citizen Journalism.

Menurut dia, ibadah puasa, sebuah ibadah yang berfungsi untuk "merecharge" sifat-sifat kemanusiaan untuk tetap berjalan ke arah yang benar, serta untuk kontemplasi atau perenungan terkait kehidupan keagamaan kita selama ini berkorelasi signifikan dengan peningkatan tingkat pemahaman terhadap pluralisme serta kesadaran sosial, ataukah malah menunjukkan degradasi.

Pada titik ini, katanya ibadah Puasa adalah alat yang paling efektif untuk mengukurnya kembali.

INTROSPEKSI DIRI

Hakekat berpuasa di bulan Ramadan sebenarnya mengajarkan umat manusia khususnya umat Islam untuk introspeksi, tenggang rasa dan menahan amarah atau emosi.

Bahkan ibadah puasa merupakan perpaduan alat ukur yang sempurna untuk mengetahui seberapa besar "intellectual quotion, emotional quotion dan spiritual quotion" manusia dalam menghadapi hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang plural dengan dinamika perkembangannya yang bergerak cepat.

Dia menyebut Ramadhan tahun ini penuh keprihatinan karena dua hal penaikan harga bahan bakar minyak serta melonjaknya permintaan akan kebutuhan pokok selama Ramadhan adalah benar, namun jangan memandangnya sebelah mata.

Penaikan harga BBM dipicu oleh kebutuhan energi yang selalu meningkat di Indonesia seiring dengan pertumbuhan ekonominya. sedangkan melonjaknya permintaan akan kebutuhan pokok juga hal yang lumrah, dari sisi ekonomi, konsumsi merupakan salah satu item pendapatan negara, hanya saja dalam konteks dinamika sosial dan keagamaan sekarang ini, setidaknya sikap konsumtif tersebut ditujukan untuk keperluan beribadah (memberikan ta`jil, buka puasa dengan anak yatim, sodaqoh dll) bukan untuk kepentingan politik praktis apalagi kepentingan Pemilu 2014.

Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar mengungkapkan salah satu hikmah bulan suci Ramadhan adalah bisa mencontoh sifat-sifat Allah.

Menurutnya, di bulan Ramadhan ini bukan hanya sekedar tidak boleh makan tapi lebih pada memberi makan kepada fakir miskin.

Selain itu Allah tidak punya pasangan. Dalam bulan Ramadan, siang hari juga tidak boleh berhubungan dengan pasangan.

"Banyak sifat-sifat Allah yang perlu dipelajari. Dan Allah suka melakukan dialog dengan mahluknya, gagasan-gagasan yang akan dilakukan disampaikan kepada malaikat. Dialog dengan manusia, dan dialog dengan iblis padahal iblis mahluk terkutuk," ungkapnya saat buka puasa bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan jajaran pimpinan lembaga negara, menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, di Istana Negara, Jakarta, Kamis (11/7/2013).

Pada kesempatan itu, dikatakan Allah punya sifat pengampun. Menurutnya, tidak mungkin sempurna Allah kalau tidak teraktualisasikan sifat-sifatnya. Dan hanya manusia yang berdosa dan oleh karena itu dibukakan pintu tobat.

"Semua sifat-sifat Allah yang dimiliki kita bisa menjalankan. Pada akhirnya, tentu semuanya harus menginstrospeksi diri sendiri bahwa bulan Ramadhan harus menciptakan diri kita ini setara," katanya.

MOMENTUM SALING BERBAGI

Wakil Ketua MPR Melani Leimena Suharli, menyebut bulan suci Ramadhan merupakan momentun untuk saling berbagi antara masyarakat yang tidak mampu dan tergolong miskin makin merasakan beban hidup yang berat karena dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) yang diberikan pemerintah, sangat membantu mereka.

"Umat Islam yang mampu pasti akan lebih peduli kepada masyarakat miskin dan mereka yang sangat membutuhkan uluran tangan. Inilah kesempatan terbaik untuk saling berbagi," katanya.

Puasa Ramadan yang setiap tahun dijalani umat Islam selama satu bulan penuh, dengan menahan lapar dan dahaga, selain menjalankan perintah agama, juga merupakan latihan mental menahan berbagai nafsu yang tidak terpuji, dan sekaligus kesempatan untuk berbagai kepada mereka yang tidak beruntung.

Namun demikian, Melani mengimbau masyarakat yang cukup mampu, untuk tidak hanya pada Bulan Ramadhan saja membantu sesama, melainkan sepanjang bulan.

"Sikap gotong royong dan peduli pada mereka yang membutuhkan bantuan, memperkuat tali ikatan masyarakat. Dan ini memang ajaran agama yang sudah menjadi tradisi dan budaya yang sejak lama tumbuh dalam masyarakat kita," kata Melani.

Di samping saling berbagi, Melani juga mengingatkan agar masyarakat non-Muslim menghormati mereka yang tengah menjalankan ibdah puasa.

"Saling menghormati sesama umat ini sangat penting mengingat falsafah negara kita, Pancasila juga mengamanatkan hal itu. Jadi, sudah selayaknya kita saling menumbuh kembangkan kerukunan hidup beragama," katanya.

Selain kepedulian dan jiwa gotong royong saling membantu sesama, hal yang sangat penting juga diingatkan dalam bulan suci Ramadan ini adalah bagaimana umat Islam dan juga umat beragama lain, menahan nafsu yang merusak kehidupan keluarga dan masyarakat.

"Nafsu konsumerisme yang berlebihan biasanya mengiringi kita pada saat Ramadan dan menjelang Idul Fitri. Karena kebiasaan buruk ini harus dikurangi dan justru harus mengembangkan nafsu untuk berbuat kebajikan," papar Melani.

Nafsu yang paling buruk dan jahat tentunya nafsu menumpuk harta dengan cara korupsi atau cara lain yang merugikan masyarakat. Nafsu inilah yang telah merusak masyarakat dan membuat bangsa ini tersandera oleh para koruptor. Anggaran negara yang mestinya untuk membangun berbagai kebutuhan masyarakat, diduga dikorup hanya untuk kepentingan pribadi pejabat.

Pewarta: Hironimus B
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2013