Jakarta (ANTARA News) - Mantan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abu Hasan, meninggal dunia pada Kamis (13/7) malam sekitar pukul 22.00 WIB di RS Medistra Jakarta, setelah sekitar 12 hari dirawat secara intensif di ruang Intensive Care Unit (ICU). Salah seorang petugas RS Medistra ketika dihubungi pada Jumat pagi membenarkan wafatnya tokoh yang pernah mendirikan PBNU tandingan tersebut. Menurut dia, pada Jumat dinihari jenazah almarhum telah dibawa oleh pihak keluarga ke rumah duka di Jl H Nawi, Cilandak Jakarta Selatan. Berdasarkan informasi yang dihimpun, KH Abu Hasan yang pernah menjabat anggota MPR itu menghembuskan nafas terakhir akibat penyakit lever yang sudah dideritanya sekitar dua tahun terakhir. Rencananya, jenazah almarhum yang pernah menjadi Ketua Umum Partai SUNI yang ikut dalam Pemilu 1999 akan dimakamkan sekitar pukul 11.00 WIB di TPU Jeruk Purut Jakarta Selatan, setelah sebelumnya disalatkan di Masjid Raya Pondok Indah. Sejumlah pengurus dan tokoh PBNU yang dihubungi seperti Rozy Munir, Ahmad Bagja, Masdar F Mas`udi, serta Wakil Sekjen PBNU Saiful Bahri Anshori dan Taufik R Abdullah mengaku belum mendengar berita wafatnya tokoh yang pernah berseberangan dengan mantan Ketua Umum PBNU yang juga mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid. Almarhum KH Abu Hasan meninggalkan seorang isteri, lima anak dan enam cucu. Pada tahun 1995, dalam Muktamar NU di Cipasung, Tasikmalaya, Abu Hasan kalah dalam persaingan memperebutkan jabatan Ketua Umum PB NU yang akhirnya jatuh kepada KH Abdurrahman "Gus Dur" Wahid. Abu Hasan yang tidak mendapat tempat dalam kepengurusan PB NU di bawah pimpinan Gus Dur, lantas mendirikan Koordinasi Pimpinan Pusat Nahdlatul Ulama (KPPNU). KPPNU pada Januari 1996 berhasil menyelenggarakan Muktamar Luar Biasa (MLB) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta. Dalam MLB yang berlangsung tanpa izin dari aparat Kepolisian itu, Abu Hasan dikukuhkan sebagai Ketua Umum PBNU `Tandingan` tersebut, sedangkan KH Hamid Baidlawi menjadi Rois Aam-nya.(*)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2006