Jakarta (ANTARA News) - Kendati hanya menikmati dari kursi penumpang, berada dalam mobil hibrida yang tengah melaju, adalah pengalaman yang mengesankan.

Setiap penguji berkendara (test drive) berkesempatan mencoba enam produk mobil hibrida keluaran Toyota dari Camry sampai Prius dan Alphard.

Mobil-mobil ini melaju begitu senyap, begitu lembut dan "pintar" mengatur perputaran energi yang dikonsumsinya.

Kamis pekan lalu, puluhan wartawan dari lima negara di Asia, termasuk Antara dan tiga wartawan lainnya dari Indonesia, berkesempatan untuk menarik pengalaman dari mobil-mobil irit dan ramah lingkungan keluaran Toyota Motor Corporation (TMC).

Lalu, bagaimanakah sistem kerja mesin hibrida pada mobil hibrida? Dari paparan animatif yang dibagikan Toyota kepada para wartawan, pola kerja mesin hibrida ini memang amat menarik.

Sistem operasi mobil hibrida menyangkut lima komponen berikut yaitu mesin, motor, generator, PCU (Power Control Unit), dan baterai.

Tidak seperti pada mobil konvensional, suplai energi saat awal menghidupkan mobil hibrida berasal dari baterai. Dari baterai energi disalurkan melalui PCU, lalu menggerakkan motor, guna kemudian memutarkan roda kendaraan.

Pada kecepatan sedang dan rendah, mobil berjalan hanya menggunakan motor sehingga sama sekali tak dibutuhkan bahan bakar.

Setelah kendaraan melaju, mesin dan motor bekerja bersamaan pada tingkat efisiensi yang optimal. Pada tahap ini, motor digunakan sebagai tenaga tambahan, tergantung pada kondisi atau medan yang dihadapi.

Mesin menyalurkan tenaga ke generator melewati PCU untuk melalui motor dan bersama-sama menggerakkan roda.

Ketika berakselarasi atau kecepatan dinaikkan, selain mendapat pasokan tenaga dari mesin, tenaga tambahan juga mengalir dari baterai melalui PCU untuk memacu motor dan lalu memutar roda lebih cepat lagi.

Selama akselarasi penuh, tenaga tambahan dipasok ke motor dari baterai. Peningkatan tenaga ini didapat dari maksimalisasi baik keluaran mesin maupun keluaran baterai.

Ketika akselarasi dikurangi atau kendaraan akan berhenti, mesin mati, sembari mengendalikan sistem rem, energi kinetik mobil secara efisien dialihkan kembali untuk men-charge (mengisi) baterai. Begitu seterusnya, sehingga energi benar-benar diirit pada tingkat minimal tergantung keinginan pengendara.

Baterai

Dari paparan itu, tergambar jelas bahwa baterai menduduki tempat terpenting dalam mobil hibrida.

TMC sendiri amat memperhatikan kualitas baterai yang menurut Managing Officer TMC Satoshi Ogiso terus dikembangkan, tidak saja dalam ukuran, namun juga daya tahan dan kapasitas tampung energi.

Sejak pertama kali mengenalkan Prius, mobil hibrida pertama buatan Toyota yang diproduksi massal sejak 1997, baterai yang digunakan adalah Nickel Metal Hybrid atau Ni-MH.

Menurut Ogiso, baterai Ni-MH ini terus ditingkatkan kualitasnya sejak Prius pertama kali dikenalkan yang waktu itu berdaya 288 volt. Lalu pada 2000, Toyota mengenalkan bateri Ni-MH berdaya 274 volt yang berbentuk silinder dengan sel berpola prisma.

Tiga tahun kemudian Ni-MH berdaya 202 volt dikenalkan, dengan jumlah sel baterai dikurangi. Model ketiga ini kemudian diperbaiki lagi pada 2009 dengan menurunkan skala sistem pendinginnya.

Model terakhir ini memberi insentif luar biasa bagi konsumen karena bobot dan biaya pengepakannya jauh lebih kecil dibanding tiga generasi baterai sebelumnya.

Baterai-baterai hibrida ini sendiri diproduksi khusus oleh Primearth EV Energy Co. Ltd (PEVE). Para wartawan lima negara Asia dibawa ke salah satu pabrik PEVE di Kosai, Prefektur Shizuoka.

Perusahaan berinvestasi 80 miliar yen (Rp7,6 triliun) dan 80,5 persen sahamnya dimiliki TMC ini didirikan pada 11 Desember 1996. Pada 2012 perusahaan tersebut meraup penjualan 1,6 miliar yen (Rp153 miliar).

PEVE yang memiliki kapasitas produksi 1,1 juta baterai per tahun ini amat menjaga kualitas produknya, selain berupaya terus mengujicoba daya tahan dan kualitas baterainya sehingga tetap memuaskan pengguna.

Menjawab seorang wartawan dari Filipina mengenai kemungkinan kesalahan manusia selama proses produksi baterai, Kepala Teknik, Grup Perencanaan Produk PEVE, Kouji Toyoshima, menepis kemungkinan itu.

"Kami telah memastikan itu tak boleh terjadi. Kuncinya ada pada desains (kerja dan SDM)," kata Toyoshima.

Ekspansi Lithium

Sampai saat ini PEVE berkonsentrasi memproduksi baterai Ni-MH yang memiliki karakteristik padat, gampang ditangani dan sangat aman.

Hingga generasi terakhir baterai ini dibuat pada 2009, jenis baterai ini digunakan pada mobil-mobil buatan Toyota seperti Prius, Prius Alpha (lima penumpang), Prius c Aqua, Camry, Crown, Estima, Alphard, dan banyak lagi.

Namun PEVE juga mengembangkan baterai Lithium (Li-ion) yang memiliki karakteristik densitas tinggi, namun menuntut penanganan lebih.

Jenis baterai ini sudah digunakan pada Prius alpha 8 penumpang dan Prius PHV (plug-in hybrid vehicle) yang dijual terbatas sebagai model produk.

Toyota sendiri berkeinginan memperluas penggunaan baterai Li-ion ini.

"Pada tahun-tahun mendatang kami akan memperluas penggunaan baterai Lithium," kata Satoshi Ogiso.

Tetapi, apapun jenisnya, baterai untuk mobil hibrida, mengutip Kouji Toyoshima, harus memenuhi syarat-syarat dasar berikut; padat (baik ketipisan maupun bobot), berongkos produksi rendah, tahan getaran, dan cocok untuk segala temperatur di dunia.

PEVE sendiri rutin melakukan inspeksi pada produk-produknya pada tingkat maksimum 100 persen, dari pengepakan baterai sampai kodefikasi baterai.

Kehati-hatian memproduksi komponen kunci ini ditempuh demi menjaga daya tahan baterai yang memang menjadi fondasi penting bagi mobil-mobil hibrida.

"Setiap proses pengerjaan dan perekayasaan harus tuntas memenuhi dahulu jaminan kualitas sebelum diteruskan ke proses selanjutnya," kata Toyoshima.

Inovasi dan evaluasi terus menerus baterai, di samping pada komponen-komponen lain mobil hibrida termasuk desains dan aerodinamikanya, membuat mobil hibrida kian populer, setidaknya di Jepang dan Amerika Serikat.

Memang ada banyak keluhan, bahkan dari warga Jepang sendiri, bahwa mobil hibrida ini tak memungkinkan dipacu pada kecepatan tinggi karena jika ini dilakukan akan sama saja memupus label efisien pada mobil ini mengingat kecepatan tinggi membutuhkan konsumsi bahan bakar yang tinggi pula.

Namun, sepertinya, jika melihat upaya intensif dari raksasa-raksasa otomotif seperti TMC, suatu saat mungkin sistem ini mengalami penyempurnaan yang bisa menyatukan keiritan, desains, kenyamanan dan kecepatan yang menjadi dambaan siapapun yang berkendara dan siapapun yang memproduksi mobil.
Pewarta:
Editor: Unggul Tri Ratomo
Copyright © ANTARA 2013