Jakarta (ANTARA News) - Sejumlah mobil pemadam kebakaran mulai meninggalkan Gedung Sekretariat Negara Jakarta yang terbakar pada Kamis, sekitar pukul 17.00 WIB dan menghanguskan lantai tiga.

Empat mobil pemadam kebakaran masih ditempat untuk mengantisipasi kemungkinan yang bisa terjadi dan melakukan pendinginan di gedung yang terbakar.

Sementara lalu lintas dari Harmoni ke arah Pasar Baru mulai lengang, tetapi dari arah sebaliknya masih diblokir.

Garis Polisi (police line) mulai dipasang di sekitar Gedung Setneg. Sebelum bubar, petugas pemadam kebakaran melakukan apel di halaman.

Sebelumnya sejumlah 175 personel Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta dikerahkan untuk memadamkan api yang melanda gedung lantai III Sekretariat Negara.

"Kami mendapat laporan ada api pukul 17.15. Lima menit kemudian sudah ada unit pemadam yang sampai dan bantuan terus ditambah," kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta Subejo di lokasi kebakaran.

Subejo mengatakan total ada 37 unit mobil pemadam kebakaran dan pendukung yang dikerahkan untuk memadamkan api. Api yang berasal dari salah satu ruang rapat itu berhasil dipadamkan dalam waktu kurang dari satu jam.

Saat berita ini dilaporkan, personel pemadam kebakaran masih melakukan pendinginan untuk memastikan api tidak kembali tersulut. Pendinginan dilakukan dengan menyemprotkan air melalu mobil tangga dari ketinggian 10 meter.

Saat dimintai keterangan, tidak banyak pegawai Setneg yang bersedia berkomentar. Mereka beralasan ada yang lebih berwenang memberikan penjelasan.

Salah satu pegawai Setneg mengatakan ruang yang terbakar adalah ruang rapat dan tidak ada dokumen-dokumen penting yang berada di ruangan tersebut.

"Saya sudah sempat masuk untuk memastikan. Tidak ada dokumen penting di sana," ujarnya.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta Subejo mengatakan masih belum bisa memastikan penyebab kebakaran tersebut.

"Saat itu masih ada aktivitas kerja. Jadi penyebabnya bisa macam-macam," katanya.
(J010*D018)

Pewarta: Juwita TR, Dewanto S dan Erafzon
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2013