Berlin (ANTARA) - China masih menjadi pasar terpenting bagi mobil bermesin pembakaran Jerman dalam hal volume pada 2022 dengan pangsa 14 persen, demikian disampaikan oleh Kantor Statistik Federal Jerman (Destatis) pada Kamis (23/3).

Total ekspor kendaraan bermesin pembakaran Jerman pada 2022 berada pada level yang sama dengan tahun sebelumnya dengan 1,48 juta unit senilai 55,5 miliar euro (1 euro = Rp16.449) atau setara 60,4 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp15.349).

"Mobil dengan mesin pembakaran tradisional masih menyumbang mayoritas ekspor dan impor mobil Jerman pada 2022, meski perdagangan luar negeri dengan kendaraan listrik semakin penting," kata Destatis dalam pernyataannya.

Jerman tahun lalu mengekspor sekitar 500.000 unit mobil listrik senilai 24,2 miliar euro, meningkat 65,2 persen secara tahunan (year on year/yoy), menurut Destatis. Pelanggan terpenting untuk mobil listrik Jerman adalah Inggris, disusul oleh Amerika Serikat. 

 
   


"Industri otomotif Jerman masih berfokus pada produksi mobil dengan mesin pembakaran klasik di negara ini, namun produksi mobil listrik meningkat secara signifikan," ungkap Destatis.

Pada tiga kuartal pertama 2022, produksi mobil listrik meningkat 66,2 persen year on year.

Asosiasi Industri Otomotif Jerman (VDA) memperkirakan total penjualan mobil listrik, termasuk kendaraan listrik baterai (battery electric vehicle/BEV) dan kendaraan listrik hibrida plug-in (plug-in hybrid electric vehicle/PHEV), di perekonomian terbesar Eropa itu tahun ini akan turun 8 persen (yoy).

Persentase mobil listrik dalam total registrasi mobil diperkirakan akan turun 3 poin persentase menjadi 28 persen.

"Kami memperkirakan bahwa pengurangan subsidi untuk mobil listrik baterai murni dan pembatalan subsidi untuk mobil hibrida plug-in akan terus berdampak negatif terhadap peningkatan mobilitas berbasis listrik," ujar Presiden VDA Hildegard Mueller dalam pernyataannya, demikian Xinhua.
 
     
Pewarta:
Editor: Bayu Kuncahyo
Copyright © ANTARA 2023