Aceh Timur (ANTARA News) - Ribuan warga dari sejumlah desa, Senin, mendatangi Markas Polsek Peudawa, Kabupaten Aceh Timur menuntut diusutnya kematian Agus Salman (28) warga setempat yang diduga meninggal dunia setelah dipukul oleh seorang anggota Polsek setempat. Kapolres Persiapan Aceh Timur, Kompol Hasbi kepada wartawan di Langsa (Ibukota Aceh Timur), membenarkan adanya demo oleh ratusan warga ke Polsek Peudawa, mulai siang hari sampai malam untuk memprotes tewasnya Agus. Ribuan orang itu menuntut agar pelaku pembunuhan Agus, mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Medan (Sumatera Utara) itu, segera dihadirkan di hadapan mereka. Hasbi menyatakan, musibah tersebut terjadi ketika Agus yang mengendarai sepeda motor diperintahkan berhenti oleh anggota polisi dan Brimob yang sedang melakukan razia di jalan raya Medan-Banda Aceh. Namun, korban malah tancam gas, sehingga anggota yang berjaga paling belakang melakukan penyenggolan dengan menggunakan popor senjata hingga Agus jatuh terguling-guling. "Mungkin akibat terguling, kepala korban terbentur aspal hingga dia meninggal dunia," katanya. Hasbi menyatakan, sebenarnya musibah tersebut sudah diselesaikan secara kekeluargaan dengan keluarga korban, apalagi pihaknya telah mengambil tindakan terhadap pelaku pemukulan tersebut. "Peristiwa ini sudah diselesaikan secara kekeluargaan, permintaan keluarga akan saya penuhi, tapi tuntutan warga untuk menghadirkan pelaku ke hadapan mareka untuk diadili secara hukum rimba tidak mungkin saya penuhi, sebab jangankan anak buah saya masyarakatpun akan saya lindungi bila ada yang menghukum mareka tidak secara prosedur," katanya. Hasbi juga menambahkan, sebelum warga meminta pelaku dihukum, ia sudah menghukum tersangka yang saat ini sudah di sel, untuk menunggu proses hukum selanjutnya. "Saya yakin bahwa massa digerakan oleh provokator yang tak ingin Aceh tetap damai, makanya saya sangat mengharapkan agar warga jangan terpancing dengan provokasi, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan terulang kembali," tambahnya. Menurut saksi mata, Murdani, pada hari itu, korban dengan menggunakan sepeda motor dihentikan oleh polisi yang sedang melakukan razia, namun korban tidak berhenti, lalu dia dipukul hingga jatuh, setelah itu datang polisi lain dan melakukan pemukulan lagi, hingga dia meninggal. Seusai kejadian itu, warga pun mengamuk dan melakukan demo ke Polsek Peudawa yang berjarak sekitar 40 Km dari Kota Langsa atau sekitar 400 Km dari Banda Aceh, yang dimulai dari pukul 14.00 Wib yang berakhir sekitar jam delasan dini hari pukul 02.00 Wib. "Polisi terpaksa melepaskan tembakan peringatan untuk membubarkan massa. Pada saat ada suara tembakan, massa lari kocar kacir," tambah Murdani. Sepanjang pengamatan, dari pukul 21.00 Wib, suasana masih sangat tegang, warga berteriak dan menghina para polisi sekaligus melakukan pelemperan batu, sehingga tembakan dari pihak kepolisian dan pemukulan terhadap warga pun terjadi. Selain melakukan aksi demo dan pelemparan batu, warga juga melakukan pemblokiran jalan dari sisi kiri-kanan jalan negara Medan-Banda Aceh, yang berlangsung selama sebelas jam. "Kami hanya untuk menuntut, supaya pelaku dihadirkan ke depan kami untuk dihukum," lanjut Murdani. Setelah bertahan selama 11 jam akhirnya massa pun bubar sekitar pukul 01.30 Wib, itu pun karena personil polisi membabi buta melepaskan tembakan ke udara dan melakukan pemukulan-pemukulan terhadap warga yang ada dekat lokasi. Selanjutnya akibat dari inseden itu, dua warga terkena tembakan yang saat ini masih dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Langsa. Saat ditemui Selasa pagi sekitar pukul 04.00 di ruang perawatan, salah seorang korban, Muhammad Irfan (16), siswa Kelas-1 di SMU Blang Baroh, Kecamatan Ranatau Panjang, Aceh Timur, yang lengan kirinya diterjang peluru, mengaku tidak tahu dengan persoalan yang terjadi. "Saya baru pulang dengan seragam sekolah dari acara pertandingan bola kaki antara sekolah di Idi, Kecamatan Idi Cut, Aceh Timur, tapi waktu sampai di tempat kejadian, saya lihat orang ramai, karena kawan-kawan lainya turun dari mobil, saya pun ikut turun," tuturnya. "Tapi tidak lama, tiba- tiba saya dengar bunyi letusan senjata berulang-ulang kali, sehingga semua orang lari, termasuk saya. Tapi tiba-tiba saya merasa tangan saya kebas dan darah bercucuran, lalu orang-orang pun menolong membawa saya ke rumah sakit," tambahnya. Korban tertembak lainya, Nurdin, warga Alu Nibong, Kecamatan Pereulak Timur, Aceh Timur, kondisinya saat ini dalam keadaan kritis akibat peluru menerjang pipi kirinya yang tembus sampai ke belakang kuping, dan kondisi tangan kanannya patah. Sementara itu Kapolres Hasbi menyatakan, hingga saat ini situasi keamanan di Kecamatan Peudawa tersebut sudah terkendali, setelah personil Brimbob dari Kabupaten Aceh Utara turun ke lokasi.(*)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2006