Jakarta (ANTARA News) - Terik mentari siang yang tidak terlalu menyengat di kota keraton, mengawali perjalanan menguji mobil yang memiliki sejarah panjang di Indonesia.

Grand New Kijang Innova yang merupakan polesan terbaru Toyota terhadap mobil serbaguna (MPV) itu telah menunggu di luar lounge eksekutif Bandara Adi Sucipto.

Penampilannya yang lebih mewah, bahkan dari tampak samping membuat  para jurnalis tak sabar ingin menikmati kendaraan legendaris, yang lahir dari konsep mobil niaga.

Tak disangka setelah lebih dari 30 tahun, kendaraan yang awalnya hanya  sebagai alat angkut barang semata ("basis utility vehicle"), kini tampil lebih prestisius dan elegan. Tak nampak lagi kesan kendaraan pengangkut barang.

Apalagi ketika masuk kabin. Yang tidak mengenal sejarah mobil tersebut, pasti tidak menduga, awalnya "Kijang" hanyalah mobil pengangkut barang yang tak nyaman ditumpangi.

Kabin polesan teranyar mobil tersebut dibuat seakan ingin membuat siapapun di dalamnya merasa nyaman dan bergengsi, terutama dengan adanya sentuhan ornamen kayu pada kemudi dan alat pemindah gigi.

Selain itu  Toyota yang mencoba mengaplikasikan "joy of owning" pada mobil tersebut juga menambahkan sejumlah fitur terbaru pada sistem audio.

Sistem audio berlayar sentuh itu dilengkapi dengan dengan fasilitas CD/MP3/WMA, DVD, AUX, "sound processing" DTS. Selain itu yang terbaru adalah dibenamkannya piranti lunak petunjuk layanan purnajual, petunjuk perawatan secara cepat, nomor kontak pelanggan, dan daftar dealer Toyota di Indonesia.

"Kami bekerja sama dengan ITB untuk mengkaji kemungkinan lewat sistem audio yang sekarang, pelanggan bisa berkomunikasi dengan layanan pelanggan bila menghadapi masalah pada mobil mereka," kata GM Perencanaan Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Widyawati Soedigdo.

Warisan
Dari Bandara Adi Sucipto, 17 jurnalis dibagi dalam delapan kelompok yang masing-masing kelompok mengendarai  Grand New Kijang Innova, melalui  keramaian kota menuju Magelang, Jawa Tengah.

Tidak ada yang baru dari sisi teknologi mesin yang diusung mobil bersilinder 2.000cc itu.  Seperti yang dikemukakan Kepala Engineering Proyek IMV Toyota Motor Corp (TMC), Kaoru Hosokawa, perubahaan drastis hanya terjadi pada penampakan luar dan dalam.

"Kami ingin memperkukuh kesan Innova sebagai kendaraan yang prestise dan agresif, yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar Indonesia," ujarnya.

Kesan itulah nampaknya yang ingin disampaikan TAM selaku agen tunggal pemegang merek (ATPM),  ketika mengajak para jurnalis dari Jakarta melakukan uji mengendarai Grand New Kijang Innova ke Yogyakarta.

Diakui Direktur Pemasara TAM Joko Trisanyoto, perjalanan kali ini bertema jelajah warisan budaya. Yogyakarta, kata dia, dipilih sebagai tempat uji mengendarai mobil terlaris di segmen kendaraan serbaguna (MPV) medium itu karena memiliki warisan budaya yang diakui dunia, seperti Candi Borobudur dan tradisi membatik.

"Seperti Yogyakarta yang memiliki warisan budaya yang diakui dunia, Grand New Kijang Innova pun sebenarnya merupakan warisan dari Indonesia yang kini mulai mendunia (pemasarannya)," kata Joko.

Sejak pertama kali mobil Toyota Kijang diluncurkan di Indonesia pada 1977, kata dia, MPV medium tersebut telah berevolusi dari kendaraan alat angkut barang semata menjadi kendaraan penumpang yang nyaman dan mewah.

"Meski pemasarannya telah mengglobal, nilai ke-Indonesia-an kendaraan ini tetap dipertahankan, karena inilah salah satu daya tarik utamanya," ujar Joko.

Ia berharap perubahaan drastis yang terjadi pada interior dan eksterior Grand New Kijang Innova, bisa memberi kenyamanan lebih pada penumpang dan pengendara, sehingga perjalanan jauh sekalipun tidak membuat lelah.

Jelajah Budaya
Jelajah Yogyakarta diawali dengan mengunjungi Candi Borobudur  dengan luas bangunan mencapai 15.129 meter persegi yang disusun dari 55 ribu pada abad ke-8 Masehi oleh wangsa Syailendra.

Di pelataran candi kedua terbesar di dunia setelah Angkor Wat di Kamboja itu, para jurnalis mengambil foto seri terbaru Innova itu dari berbagai sudut pandang, hingga menjelang sore.

Sebelum matahari terbenam, perjalanan dilanjutkan ke resort terpencil, Amanjiwo, dengan menyusuri jalanan sempit menanjak dan menurun.

Sambil menunggu azan magrib, para peserta bisa menikmati suasana desa di Jawa dan memandang Candi Borobudur dari kejauhan. Di tempat itu pula, peserta disuguhkan berbagai tarian Jawa seperti tari Gambyong.

Keesokan harinya, perjalanan  dimulai dengan mengunjungi Desa Kinarejo,  yang pernah terkena bencana letusan Gunung Merapi.

Jalanan menanjak dan sempit mampu dilalui dengan nyaman. Di tempat tersebut, rombongan bertemu dengan anak mbah Marijan, kepala dusun, masyarakat setempat yang berusaha bangkit setelah delapan bulan rumah mereka, lenyap dilalap awan panas atau "wedus gembel" Merapi.

Dari lokasi tersebut, perjalanan berlanjut ke rumah batik, Sogan Village. Pada bengkel kerja UKM tersebut, para peserta belajar membatik, yang ternyata tidak mudah, menggoreskan canting dengan rapih pada sehelai kain katun.

"Setelah tahu sulitnya membatik, tidak lagi deh menawar (kain) batik terlalu rendah. Ternyata sulit membuatnya," ujar seorang jurnalis dari majalah gaya hidup.

Tidak berhenti sampai di situ, menjelang sore, para peserta diajak ke Rumah Sleman. Rumah yang dibangun keluarga Kasunanan Solo tersebut menjadi persinggahan terakhir sebelum esok kembali ke Jakarta.

Pada rumah tradisional Jawa tersebut, para peserta disuguhkan sendratari Ramayana yang terkenal itu.

"Kami berharap para peserta merasakan  aura ke-Indonesia-an pada perjalanan kali ini dan memadukannya dengan aura ke-Indonesiaan pada Grand New Kijang Innova yang dikendarai," ujar Joko Trisanyoto.
(R016)
Oleh
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2011