Yogyakarta, 19/1 (ANTARA) - Erupsi Gunung Merapi 2010 menghasilkan sekitar 140 juta meter kubik material vulkanik yang terdiri atas abu, pasir, kerikil, dan batu.

Material sebanyak itu mengendap di puncak, lereng, dan kawasan kaki gunung, serta sejumlah sungai yang berhulu di Merapi.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandrio mengingatkan masyarakat yang tinggal di sekitar sungai yang berhulu di Gunung Merapi untuk terus mewaspadai ancaman banjir lahar hujan.

Sebab, kata dia, seluruh sungai yang berhulu di Merapi telah dipenuhi endapan material vulkanik hasil erupsi sejak akhir Oktober hingga November 2010 yang volumenya sekitar 140 juta meter kubik.

Subandrio mengatakan seluruh material vulkanik hasil erupsi sebanyak itu tidak akan habis dalam satu kali musim hujan, namun diperlukan waktu dua sampai tiga kali musim hujan.

Ia memperkirakan volume material vulkanik hasil erupsi Merapi 2010 yang telah "turun" dan hanyut menjadi banjir lahar dingin di sejumlah sungai mencapai sekitar 20 persen.

"Dari 140 juta meter kubik material vulkanik hasil erupsi Merapi, baru sekitar 20 persen yang `turun` dan hanyut menjadi banjir lahar dingin," katanya.

Menurut dia, pihaknya kesulitan memperkirakan volume material vulkanik yang telah `turun` dan hanyut menjadi banjir lahar dingin, karena ada material lepasan dari hasil erupsi tahun-tahun sebelumnya yang juga ikut hanyut.

Contohnya, kata Subandrio, dalam banjir lahar dingin di wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang "memutus" jalan raya utama antara Yogyakarta-Magelang di Salam, belum lama ini, terdapat material vulkanik hasil erupsi Merapi pada 1990-an.

Di Kali Putih, Kabupaten Magelang itu, volume material vulkanik yang telah "turun" diperkirakan mencapai 12 juta meter kubik.

"Hujan biasa saja bisa menyebabkan banjir lahar dingin di wilayah Magelang, karena sungainya sudah dangkal. Ini yang harus terus diwaspadai," katanya.

Sedangkan di sisi selatan Merapi, banjir lahar dingin juga harus tetap diwaspadai, khususnya di Sungai Opak. "Di Kali Gendol kemungkinan sudah tidak akan terjadi aliran, karena sungainya sudah penuh, bahkan lebih tinggi dari permukaan jalan, sehingga material Merapi akan masuk ke Kali Opak yang letaknya lebih rendah," katanya.

Menurut Subandrio, karena masih adanya ancaman bahaya sekunder dari erupsi Gunung Merapi itu, BPPTK Yogyakarta mempertahankan status aktivitas vulkanik gunungapi ini di level dua atau "waspada".


Ancaman sampai Maret

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan sejak Januari hingga Maret 2011 ancaman banjir lahar dingin Gunung Merapi perlu terus diwaspadai. BNPB menyerahkan penanggulangan banjir lahar dingin Merapi kepada Balai Besar Wilayah Sungai di daerah.

Kepala BNPB Syamsul Maarif mengingatkan banjir lahar dingin Gunung Merapi masih terus mengancam hingga Maret 2011. Curah hujan yang tinggi akan memperderas aliran material Merapi ke seluruh sungai yang berhulu di gunung ini.

"Persoalannya adalah hujan. Air hujan ini menyeret material Merapi yang tertinggal di atas ke seluruh sungai. Padahal ini sedang musim hujan," katanya di Jakarta.

Syamsul menyebutkan terdapat 12 sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Wilayah Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, merupakan kawasan paling rawan diterjang banjir lahar dingin. Beberapa lokasi di wilayah Salam merupakan aliran Sungai Putih.

Banjir lahar dingin Merapi juga mengancam dua sungai yang mengalir di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yaitu Sungai Code dan Opak.

BNPB sudah memastikan pemasangan alat sistem peringatan dini (early warning system) di seluruh sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Pemasangannya dilakukan atas kerja sama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Ia menyebutkan 70 unit alat berat telah dikirimkan untuk melakukan pengerukan endapan banjir lahar dingin di beberapa lokasi. Namun, pengerukan ini terhambat karena tingginya curah hujan di lereng Merapi.

Pengerukan untuk meminimalisir kerusakan jembatan akibat terjangan banjir lahar dingin. "Beberapa jembatan sudah rusak, bahkan dua unit alat berat ikut hanyut, meskipun akhirnya bisa diselamatkan," katanya.


Banyak ke Magelang

Kawah Gunung Merapi yang berbentuk tapal kuda menjadikan arah banjir lahar dingin lebih banyak mengalir ke arah Muntilan dan Magelang, Jawa Tengah, kata peneliti dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Jazaul Ikhsan.

"Intensitas curah hujan yang cenderung tinggi dan masih banyaknya deposit endapan erupsi Merapi juga menjadikan banjir lahar dingin di aliran sungai yang berhulu di gunung itu semakin sering terjadi," katanya.

Menurut dia, idealnya, dengan intensitas curah hujan di puncak Merapi sebesar 40 milimeter dan hujan terjadi lebih dari dua jam, banjir lahar dingin akan membawa endapan erupsi Merapi. Namun, yang terjadi saat ini di Merapi adalah intensitas curah hujan di puncak masih rendah dan belum mencapai 40 milimeter, banjir lahar dingin telah menerjang.

"Hal itu disebabkan kuantitas deposit endapan yang sangat banyak. Besarnya kuantitas deposit endapan erupsi Merapi menjadikan banjir lahar dingin Merapi semakin sering dan masih akan terjadi dalam beberapa waktu mendatang," kata Jazaul.

Ia mengatakan ada dua hal yang dapat dilakukan pemerintah, baik secara struktur maupun nonstruktur untuk meminimalkan dampak yang diakibatkan oleh banjir lahar dingin.

Secara struktur, pemerintah dapat meningkatkan kembali fungsi sabodam yang berperan dalam menahan sedimentasi agar tidak membanjiri daerah aliran sungai yang berhulu di Merapi.

Selain itu, juga dapat dilakukan melalui pengosongan sabodam dengan mengeruk sedimentasi yang berupa material hasil endapan erupsi seperti pasir dan batu.

"Namun, upaya itu cukup riskan jika melihat potensi banjir lahar dingin yang masih besar. Aspek keselamatan menjadi prioritas," kata dosen Fakultas Teknik UMY ini.

Ia mengatakan upaya nonstruktur dilakukan dengan memberikan "early warning detector" (detektor peringatan dini) untuk merekam intensitas curah hujan dan mengukur ketinggian muka air di sungai berhulu di Merapi.

"Dengan alat itu masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Merapi dapat diberi pemahaman untuk menyingkir dan bersiap saat curah hujan tinggi, dan ketinggian muka air di sungai meningkat seiring dengan pendangkalan sungai," katanya.


Jalan Yogya-Solo terancam

Jalan nasional Yogyakarta-Solo terancam banjir lahar dingin di Jembatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, karena saat ini endapan material vulkanik hasil erupsi Gunung Merapi sebagian akan hanyut terbawa air hujan dan mengalir melalui Kali Gendol yang masuk ke Sungai Prambanan.

"Ancaman sebenarnya lebih besar di sisi timur, namun karena curah hujan terjadi di sisi barat Merapi, maka saat ini banjir lahar dingin terjadi di sisi barat sehingga menutup jalan nasional Yogyakarta-Magelang. Sedangkan ancaman di sebelah timur saat ini masih `tidur`," kata Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Tjipto Haribowo didampingi Kepala Dishubkominfo Kabupaten Sleman Agus Soesilo Endiarto.

Menurut dia, ancaman itu terlihat dari kejadian sebelumnya, di mana tujuh jembatan di sepanjang aliran Sungai Opak sudah putus diterjang banjir lahar dingin.

"Untuk mengantisipasi apabila nanti jalan Yogyakarta-Klaten tertutup, maka saat ini Dinas Perhubungan DIY dan Kabupaten Klaten (Jateng) sedang mencari skenario jalan alternatif. Kalau Prambanan ditutup, nanti dari Solo akan dibelokkan ke Piyungan," katanya.

Namun, kata dia, jika nanti ternyata jembatan di Pandansimping, Kabupaten Klaten juga putus, maka jalan alternatif harus melalui Kabupaten Gunung Kidul, yakni melewati Kecamatan Cawas, Klaten. "Sampai saat ini kami sedang menyusun jalur-jalur alternatif supaya kalau terjadi sesuatu sudah siap," katanya.

Tjipto mengatakan untuk pengalihan jalur Yogyakarta-Magelang, saat ini untuk kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat melewati Tempel-Kulonprogo-Magelang, sedangkan bus dan truk besar melalui Purworejo atau Klaten-Boyolali-Salatiga-Semarang.

"Masing-masing wilayah akan survei jalan yang akan dijadikan jalur alternatif, di mana lokasi yang akan dipasang rambu, petunjuk jalan, maupun lampu penerangan jalan," katanya.

Ia mengatakan dalam waktu dekat ini Dinas Perhubungan DIY, Magelang, Purworejo dan Klaten akan membuat peta bersama untuk jalur-jalur alternatif tersebut.

"Peta-peta ini selanjutnya akan disebarkan ke masyarakat sebagai pedoman jalur alternatif, khsusnya saat terjadi banjir lahar dingin yang mengancam jalur-jalur penghubung tersebut," katanya.


Kerugian Rp2 miliar

Kerugian akibat beberapa kali banjir lahar dingin Merapi yang menerjang kawasan Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mencapai sekitar Rp2 miliar.

"Sementara ini kerugian yang ditimbulkan akibat banjir lahar dingin baik yang melalui Sungai Gendol maupun Sungai Opak mencapai sekitar Rp2 miliar yang meliputi kerusakan infrastruktur serta sektor pertanian dan perikanan," kata Camat Cangkringan Samsul Bakrie.

Menurut dia, pihaknya masih terus melakukan pendataan untuk kerugian terutama untuk sektor pertanian dan perikanan.

"Hasil pendataan sementara ini kerugian infrastruktur mencapai Rp1,9 miliar, sedangkan kerugian untuk sektor pertanian dan perikanan berkisar Rp100 juta. Namun jumlah tersebut masih fluktuatif karena kami masih terus melakukan pendataan," katanya.

Ia mengatakan terkait dengan kerusakan infrastruktur seperti ambrolnya tujuh jembatan dan satu jembatan perlintasan penduduk pihaknya mengaku belum akan membangun jembatan darurat meskipun saat ini wilayah Cangkringan terbelah menjadi dua, di sisi kiri dan kanan Sungai Opak.

"Kami belum akan membangun jembatan darurat meskipun saat ini sebenarnya cukup vital, kami masih fokus pada keamanan warga terlebih dahulu," katanya.

Menurut dia, saat ini kondisinya masih rawan diterjang banjir lahar dingin, sehingga pembangunan jembatan darurat belum menjadi prioritas.

Samsul mengatakan banjir lahar dingin yang beberapa kali menerjang Sungai Opak telah mengakibatkan berbagai infrastruktur rusak. "Kerusakan tersebut meliputi tujuh jembatan, dan satu jembatan perlintasan putus, dan kantor Polsek Cangkringan rusak berat," katanya.

Dari tujuh jembatan yang putus itu, kata dia ada satu jembatan yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi DIY, yakni Jembatan Opak di Dusun Geblok-Salam, Desa Wukirsari.

"Saat ini warga hanya bisa menggunakan jembatan Desa Banjarharjo, Kecamatan Ngemplak, yang letaknya sekitar tujuh kilometer dari Dusun Panggung, Desa Argomulyo," katanya.(M008*E013/Z002/K004)

Oleh Oleh Masduki Attamami Dan Eka
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2011