Jakarta (ANTARA News) - Dalam sehari terjadi penambahan 1.000 motor baru di Jakarta sehingga tidak mengherankan apabila lalu lintas di jalan-jalan ibukota kian padat dan rentan macet.

"Di Jakarta ada tambahan 1.000 sepeda motor per hari," kata Fauzi Bowo saat membuka acara Musyawarah Daerah XIV HIPMI Jaya di Jakarta, Rabu.

Menurut Gubernur, pertumbuhan yang besar alat transportasi seperti sepeda motor dan mobil itu tidak akan terjadi apabila masyarakat tidak memiliki daya beli yang kuat.

Pertumbuhan itu, kata Fauzi Bowo, telah berperan besar dalam pertumbuhan ekonomi sekaligus membuktikan bahwa tingkat daya beli masyarakat juga kuat.

Fauzi memaparkan, pertumbuhan yang tinggi itu tidak dipungkiri juga memiliki dampak negatif seperti berkontribusi terhadap semakin padat dan macetnya arus lalu lintas di sejumlah jalan raya ibukota.

Namun, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga tidak bisa begitu saja mengeluarkan kebijakan yang menghalangi pertumbuhan kendaraan bermotor yang juga turut berkontribusi terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi Jakarta.

"Kami tidak mungkin mengerem pertumbuhan ekonomi karena akan berdampak pula secara nasional," kata Gubernur.

Selain tingginya pertumbuhan kendaraan bermotor, ia juga menuturkan bahwa sepanjang 2010 telah terbuka sekitar 575.000 lapangan kerja baru.

Hal itu sebagian juga merupakan hasil kerja keras dari para pengusaha di HIPMI Jaya.

Ia juga mengutarakan permintaan maaf bila selama ini masih terdapat berbagai birokrasi perizinan terkait dunia usaha di Jakarta yang belum berjalan dengan baik.

Selain itu, Gubernur juga memahami bahwa para pengusaha rata-rata menginginkan antara lain mengenai adanya kepastian hukum sehingga tercipta iklim bisnis yang kondusif.

"Kami mengetahui bahwa kepastian hukum diinginkan setiap investor, ini kita jamin," katanya.

Mengenai masalah insentif usaha, Fauzi mengemukakan bahwa selama ini kewenangan memberikan insentif lebih banyak terletak di tangan pemerintah pusat, sedangkan kewenangan pemerintah daerah dinilai masih sangat terbatas.

(M040/S026)

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2011