Kerinci, Jambi (ANTARA News) - Aktivitas vulkanologi Gunung Kerinci di Kabupaten Kerinci saat ini terus meningkat namun masih dalam batas kewajaran. Ketua Pos Pemantau Aktivitas Gunung Kerinci Hery Prasetyo di Kerinci, Senin menjelaskan, peningkatan itu ditandai dengan intensitas kegempaan yang sering terjadi.

Menurut Hery, peningkatan aktivitas vulkanologi berupa peningkatan intensitas kegempaan vulkanis terjadi sejak Mei 2010.

"Sejak Mei lalu terjadi peningkatan. Kalau sebelum-sebelumnya tingkat kegempaan dalam satu bulan hanya terjadi kegempaan antara 10-15 kali, kini terjadi hampir setiap hari," ujarnya.

Saat ini intensitas kegempaan meningkat dan terjadi setiap hari dengan rata-rata 4-6 kali dalam sehari. Pada pencatatan pada Minggu (31/10) terjadi lima kegempaan.

"Memang seperti gunung-gunung berapi lainnya di tanah air saat ini semuanya ditetapkan dalam status waspada, termasuk Gunung Kerinci, tapi bukan berarti sudah sama berbahayanya dengan gunung berapi lain di Jawa atau di Sumatera," kata Hery.

Kegempaan akibat aktivitas vulkanologi di kawasan gunung berapi merupakan hal biasa dan sangat normal.

Justru yang harus dicemaskan kalau tiba-tiba gunung berapi tersebut tidak menunjukkan adanya aktivitas kegempaan vulkanik," katanya.

Hery menjelaskan, jika gunung berapi yang aktif tiba-tiba lama berdiam diri, pertanda sesuatu yang kurang baik bisa terjadi. "Diamnya itu bisa diakibatkan penyumbatan atau terjadi hal lain dengan magma dalam perut gunung," katanya.

Letusan tiba-tiba bisa saja terjadi, dan letusannya bisa kuat dan keras akibat dorongan dari dalam perut gunung tersebut.

"Jadi, meskipun terjadi peningkatan aktivitas kegempaan, tapi hal tersebut tidak bisa dikatakan akibat keterkaitan dengan gunung Merapi di Jawa yang kini meletus," tegasnya.

Jika memang terjadi peningkatan aktivitas yang berbahaya maka akan bisa dilihat dari gelagat alam, seperti akan keluarnya hewan-hewan dari teritorialnya menuju tempat yang jauh dan lebih rendah.

Selain itu, suhu dan kelembaban udara yang terasa berbeda dari biasanya. Sampai saat ini pertanda tersebut sama sekali belum terlihat.
(ANT144/E003)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2010