Seoul (ANTARA News/AFP) - Unjuk rasa di Pyongyang, Ahad, yang menuduh Korea Selatan meningkatkan ketegangan lintas-perbatasan karena tenggelamnya salah satu kapal perangnya, telah menarik 100.000 orang, menurut media negara Korea Utara.

Demonstrasi itu diadakan di Lapangan Kim Il-Sung, dinamai sama dengan pendiri Korea Utara dan ayah presidennya sekarang ini, menurut jaringan siaran negara yang dimonitor oleh kantor berita Korea Selatan, Yonhap.

Slogan-slogan yang dilukis di panggung pada unjuk rasa itu mengecam Presiden Korea Selatan Lee Myung-Bak sebagai seorang "pengkhianat", katanya.

Berpidato pada unjuk rasa itu, Choe Yong-Rim, kepala sekretaris komite partai kota (Pyongyang), meminta warga untuk memperkuat diri mereka menghadapi serangan dari Korea Selatan dan sekutunya AS, dan mengatakan semenanjung itu berada di ambang perang.

Ia juga membantah tuduhan Seoul bahwa Korea Utara telah mentorpedo kapal perang Korea Selatan yang menewaskan 46 tentara, kata Yonhap.

Para penyelidik internasional melaporkan pada 20 Mei bahwa sebuah kapal selam Korea Utara telah menembakkan torpedo besar untuk menenggelamkan kapal perang itu. Utara membantah keterlibatannya, dan menanggapi pembalasan Selatan dengan ancaman perang.

Negara itu telah memutuskan semua hubungan dengan Selatan, membatalkan perjanjian yang ditujukan untuk menghindari pertengkaran sengit kebetulan di perbatasan laut kedua negara yang diperselisihkan dan berjanji untuk menyerang kapal-kapal yang menyelundup.
(S008/K004)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2010