Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, bangsa Indonesia setidaknya telah mampu melewati dua ujian besar yakni lulus ujian krisis multidimensio tahun 1998 serta mampu melewati krisis ekonomi dunia pada akhir tahun 2008.

"Keduanya merupakan karya anak-anak bangsa yang harus kita syukuri," kata Presiden saat memberikan kuliah perdana dengan judul "Failure Is Not An Option" (gagal bukan pilihan negeri ini) di Sekolah Jurnalistik pada Puncak Peringatan Hari Pers Nasional, di Palembang, Selasa.

Peringatan Hari Pers Nasional tahun ini diselenggarakan di Palembang yang pelaksanaannya bersamaan dengan Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) yang berlangsung sejak tanggal 3 - 8 Februari 2010.

Hadir pada peringatan Hari Pers tersebut Ketua MPR Taufiq Kiemas, Ketua DPR Marzuki Alie, Ketua MA Harifin A. Tumpa, Menko Kesra Agung Laksono, Menkominfo Tifatul Sembiring, Mendiknas Mohammad Nuh, Ketua Umum PWI Pusat Margiono, dan Dirut Perum LKBN Antara Ahmad Mukhlis Yusuf.

Acara puncak Hari Pers Nasional juga dihadiri Dubes Tunisia dan kalangan diplomat negara sahabat, sejumlah gubernur dari seluruh Indonesia, tokoh pers seperti Diah Herawati dan Rosihan Anwar, serta lebih dari 1.000 insan pers seluruh daerah.

Presiden menambahkan, setelah negeri ini lulus dari kedua ujian tersebut, maka tantangan selanjutnya adalah mempersiapkan generasi baru kepemimpinan nasional dan melanjutkan pembangunan menuju kesejahteraan rakyat yang dicita-citakan bersama.

"Untuk itu, diperlukan setidaknya tiga pilar, yakni meningkatkan kesejahteraan ekonomi, membangun demokrasi, dan mewujudkan keadilan yang hakiki," kata Presiden.

Pada kesempatan lain Presiden juga meminta pers Indonesia menata diri sendiri nilai-nilai dan normanya untuk terciptanya demokrasi Indonesia yang mekar. Pers juga diminta terus mengawal pemberantasan korupsi.

Presiden ingin demokrasi makin matang, kemakmuran dan keadilan hakiki dirasakan semua warga negara tanpa diskriminasi.

Selain itu, pers perlu melakukan sensor dari dalam diri sendiri, liputan yang seimbang, "cover both sides" (memberitakan dua belah pihak), serta mengetahui berita mana yang masih dalam kepatutan dan yang sudah di luar kepatutan.

Pada Puncak Peringatan Hari Pers tersebut juga diberikan penyerahan kartu pers kelas satu kepada sejumlah tokoh media terkemuka diantaranya Rosihan Anwar, Jacob Oetama, Ishadi SK, Diah Herawati, Bambang Harymurti, Pia Alisyahbana, Karni Ilyas, Suminta Tobing dan Dahlan Iskan. Kartu pers kelas satu diberitakan kepada 80 insan pers.

Pada Puncak Hari Pers Nasional juga dilakukan penandatanganan ratifikasi perusahaan pers yang meliputi standar kompetensi, perlindungan wartawan yang ditandatangani Kompas Gramedia Group, LKBN ANTARA, RRI, TVRI, Trans Group, Mahaka Media, Globe, dan Jawa Pos Group. Selain itu dilakukan peresmian Sekolah Jurnalistik Dewan Pers.(A049*A017/A024)

Pewarta:
Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2010