Semarang (ANTARA News) - Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menjalin kerja sama di bidang peternakan dengan PT Sijiro International, terutama ditujukan untuk meningkatkan penelitian terkait peternakan sapi di Indonesia.

"Kekayaan Indonesia sebenarnya sangat subur dan beragam, namun sapinya ternyata masih mengimpor dari Australia," kata Direktur PT Sijiro International, Robert Murdoch usai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di Semarang, Jumat.

Dengan kerja sama tersebut, pihaknya akan berupaya bersama-sama dengan Undip untuk mendirikan peternakan sapi di Temanggung untuk memberikan jalan keluar permasalahan peternakan di Indonesia.

"Kami akan mendatangkan sapi jenis Red Wagyu langsung dari Australia sebanyak 120 ekor betina dan 70 ekor jantan yang dikirim langsung menggunakan pesawat," katanya.

Ia mengatakan, proyek penelitian tersebut tentunya membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, sebab proyek itu tidak hanya ditujukan untuk penggemukan sapi.

Namun, kata dia, proyek tersebut akan diteruskan hingga sampai proses pembibitan sapi, sehingga kesuksesan proyek tersebut ditentukan oleh komitmen dan keseriusan kedua belah pihak.

"Kami berharap proyek penelitian ini sudah dimulai sampai akhir kuartal ketiga tahun ini di Temanggung," kata Robert.

Sementara itu, Rektor Undip, Prof Susilo Wibowo mengatakan, adanya kerja sama tersebut berarti menginginkan Fakultas Peternakan Undip dapat lebih maju, terutama dalam bidang peternakan sapi.

Ia menyebutkan, bentuk kerja yang akan dilakukan, mulai dari proses "feeds and feeding", termasuk "proses, pasteurisasi, pemuliaan dalam membentuk sapu berkualitas tinggi, hingga instalasi pengolahan limbah peternakan.

"Kerja sama ini juga menuntut komitmen kedua belah pihak, baik Undip maupun PT Sijiro International untuk memanfaatkan seluruh sumber daya yang dimiliki," katanya.

Terlebih lagi, kata dia, program penelitian tersebut sejalan dengan program pemerintah dalam menciptakan swasembada daging dan peningkatan kesejahteraan peternak sapi di Indonesia.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010