Jakarta (ANTARA News) – Tokoh Senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) AP Batubara mengharapkan, pemerintah dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak perlu mengurusi soal kontroversi Buku George J Aditjondro, karena hanya akan menghabiskan pikiran dan tenaga yang tidak ada manfaatnya.

AP Batubara yang juga anggota Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDIP mengemuakan hal itu di Jakarta, Rabu, menanggapai kontroversi peredaran buku berjudul "Membongkar Gurita Cikeas" karangan George Junus Aditjondro yang diterbitkan oleh sebuah penerbitan di Yogyakarta.

Menurut AP Batubaran yang akrab di panggil "AP" itu, jika pemerintah hanya mencurahkan untuk menanggapi konroversi buku tersebut, maka dikhawatirakan masyarakat menganggap bahwa isi buku itu benar adanya.

Sedangkan saat ini, katanya, pemerintah masih banyak tugas berat yaitu mewujudkan program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II, menyelesikan kasus Bank Century yang sekarang ditangani Pansus Hak Angket DPR, dan penanganan dari segi hukum oleh aparat penegak hukum, seperti di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Pada kesempatan itu, AP juga menyayangkan, pemberaian fasilitas berupa monbil dinas "Camry Crown" seharga Rp1,3 miliar kepada para pejabatr negara, seperti meneteri pimpinan DPR, MPR, lembaga tinggi negara, karena dinilai tidak sesuai dengan kondisi perekonomian dalam negeri serta keadaan masyarakat miskin Indonesia yang jumlahnya puluhan jutaan jiwa.

AP memberikan apresiasi yang tinggi kepada fungsionaris PDIP seperti Wakil Ketua DPR Pramono Anung dan Ketua Frakksi PDIP Tjahjo Kumolo yang tidak bersedia menggunakan fasiliats mobil mewah tersebut, sebagai wujud kepedulain "hati nurani" atas penderitaan rakyat miskin yang keseulitasn memenuhi kebutuhan pokok sehar-hari.

Pada kesempatan terpisah, mantan aktivis mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Hendra Ratu Prawira menilai buku berjudul "Membongkar Gurita Cikeas" karangan George Junus Aditjondro hanyalah sebuah lelucon politik semata.

"Buku ini kalau saya menilai hanya ingin mencari sensai dan menarik perhatian publik. Hal yang sama juga pernah dilakukan George sekitar 17 tahun silam," katanya.

Sementara itu, mantan Pemimpin Redaksi Surat Kabar Jurnal Nasional Ramadhan Pohan melaporkan penulis buku George Yunus Aditjondro ke ke Sentral Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya, atas kasus pemukulan yang dihadapinya di Jakarta, Rabu.

Pengacara Ramadhan Pohan, Dedi Kurniadi mengatakan bahwa kliennya mengalami luka memar pada mata bagian kiri setelah terkena buku yang dilemparkan Geoger Aditjondro.

George Aditjondro melemparkan buku yang mengenai mata bagian kiri Ramadhan saat peluncuran buku "Membongkar Gurita Cikeas" karya Gerorge Aditjondro di Doekoen Cafe Pasar Minggu, Jaksel, Rabu pukul 13.00 WIB.

Akibat dugaan tindakan penganiayaan tersebut, Ramadhan melaporkan George Aditjondro dengan nomor laporan 3757/K/X!!/2009 dan terancam terkena Pasal 351 tentang penganiyaan dengan ancaman hukuman maksimal penjara lima tahun.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2009