Semarang (ANTARA News) - Film dokumenter karya dua mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Bambang Rahmanto dan Rio Hadindra Permana, memenangi "Eagle Award", sebuah ajang perlombaan film dokumenter tingkat nasional.

"Kami sebenarnya tak mengira dapat memenangi ajang tersebut, mengingat empat finalis lainnya juga menampilkan film dokumenter karya mereka yang tak kalah bagusnya," kata Bambang di Semarang, Senin.

Ia menyebutkan, empat film dokumenter pesaing tersebut adalah "Dunia Kecil dalam Kotak" karya Ginandjar Teguh Iman dan Herlina Ratnafuri, "Sang Pengumpul Asap" karya Agrha Wahi Prayogo dan Lilis Sucahyo.

Kemudian, kata dia, film "Merajut Impian di Balik Catwalks Jalanan" karya Taufan Agustiyan Prakoso dan Muhammad Abdul Malik, dan "Bukan Negeri Sampah, Bukan Bangsa Pengemis" karya Devi Al Irsyandiyah dan Eko Rejoso.

Menurut dia, film yang mereka buat menceritakan tentang warga pribumi di sekitar wilayah Gang Buntu Semarang yang mendirikan tempat "fitnes" untuk mengolah otot dan menjaga kebugaran tubuh.

Padahal, kata dia, mayoritas warga pribumi di sekitar wilayah Gang Buntu yang berada di kawasan Pecinan, Semarang itu merupakan masyarakat golongan menengah ke bawah yang penghasilannya sering kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Mereka tentunya tidak berpikir ikut `fitnes` mengingat biayanya mahal, namun mereka tetap kreatif dan mengakalinya dengan memanfaatkan barang dan besi bekas untuk membuat seperangkat alat `fitnes`," kata mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Undip tersebut.

Rio menambahkan, tempat "fitnes" itu dikelola oleh perkumpulan bernama "Gorilla Power Barbel Club", dan biasanya didatangi oleh para tukang becak, pedagang kecil, dan pekerja kasar yang ingin berlatih "fitnes".

"Mereka yang ingin berlatih di tempat itu tidak perlu mengeluarkan biaya mahal, sebab biaya yang dikenakan bersifat sukarela dan tidak memaksa yang disesuaikan dengan kemampuan mereka masing-masing," kata mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Undip itu.

Menurut dia, ketertarikan untuk mengangkat kisah tersebut menjadi sebuah film, disebabkan dalam kisah itu terkandung pesan yang cukup humanis, bahwa kemiskinan tidak dapat membatasi orang untuk merasakan olahraga yang relatif mahal tersebut.

Sementara itu, Rektor Undip, Prof. Susilo Wibowo mengatakan, prestasi kedua mahasiswa Undip itu patut untuk dibanggakan, karena menunjukkan bahwa sineas-sineas muda Semarang ternyata memiliki kemampuan.

"Kami bangga dengan prestasi mereka dan berharap bahwa prestasi-prestasi membanggakan dapat muncul dari mahasiswa-mahasiswa Undip lainnya," kata Rektor.

Sebelumnya diwartakan, film "Gorilla dari Gang Buntu" yang berdurasi sekitar 22 menit itu berhasil masuk dalam nominasi "Eagle Award", setelah lolos dalam proses seleksi panjang, dari 200 film yang akhirnya disaring menjadi 5 film.
(*)

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2009