Prof Norsanie: hargai mobil listrik karya anak bangsa

Selasa, 17 Juli 2012 08:39 WIB | Dilihat Kali
Palangka Raya (ANTARA News) - Mobil listrik dan sejumlah hasil karya sejenis ciptaan putra-putri Indonesia merupakan produk dalam negeri yang perlu dihargai masyarakat negeri ini, kata Prof Norsanie Darlan di Palangka Raya, Selasa.

Guru besar Universitas Palangka Raya (Unpar) itu mengatakan, banyak karya anak bangsa yang patut dihargai seperti mobil listrik "Lets Green & Go Electric" yang diujicoba Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan Senin (16/7) kemarin.

"Sebagai bangsa besar, kita harus berani mengubah persepsi, yang semula menjadi konsumen produk luar negeri menjadi konsumen produk dalam negeri," kata dosen program pascasarjana S-2 Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Unpar tersebut.

Ini merupakan sejarah baru di bidang otomotif hasil karya putri-putri Indonesia. Mobil listrik berlebel "Lets Green & Go Electric" ini dinilai dapat membantu mengurangi potensi yang bisa merusak lingkungan dan kesehatan.

Sebelumnya, sudah ada sejumlah SKM yang memproduk kendaraan serupa, namun bukan mobil listrik seperti SMK Magelang, EMK Taruna di Jawa Barat (Jabar) dan mobil Esemka Solo yang menjadi isu nasional beberapa bulan lalu.

"Kita berharap semua hasil karya anak bangsa dihargai tanpa cela. Jangan dinilai negatif seperti yang terjadi selama ini. Kalau penilaian negatif dikedepankan terhadap produk anak bangsa seperti dulu, kita khawatir pasarnya terus dikuasai produk luar negeri," katanya.

Pengalaman masa lalu sudah menjadi kenyataan. Semua anak bangsa masih ingat soal pesawat karya cipta anak bangsa yang tergabung dalam IPTN, yang akhirnya tidak berjalan maksimal akibat "ketidakpercayaan" pada bangsa sendiri.

"Sebenarnya, sekecil apapun hasil karya anak bangsa harus kita hargai. Siapa lagi yang menghargai hasil karya anak bangsa kalau bukan kita sendiri, termasuk produk mobil nasional seperti mobil listrik dan Esemka itu," katanya.

Norsanie mengatakan, sebenarnya berdirinya industri pesawat terbang Nortanio (IPTN) ikut mengangkat harkat dan martabat bangsa, tapi karena ada yang dengan nada tertentu meremehkan karya cipta dirgantara anak bangsa akhirnya tinggal "kenangan".

"Bila kita menelaah sejarah anak bangsa, Nurtanio adalah putra kelahiran Kalimantan Selatan. Tapi kenapa nama perusahaan yang menabalkan nama putra bangsa kelahiran Kalimantan Selatan itu diubah menjadi nama lain," kata Norsanie dengan nada tanya. (S019)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Kirim Komentar
Komentar Pembaca